Balikpapan, Inikaltim.com – Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Japar Sidik, menyoroti semakin berkurangnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi masa depan ketahanan pangan nasional jika tidak diantisipasi dengan berbagai inovasi dan kebijakan yang mampu menarik minat anak muda.
Hal itu disampaikan Japar Sidik saat ditemui di Kantor DPRD Balikpapan, Senin (8/6/2026). Ia menjelaskan bahwa saat ini banyak generasi muda yang memilih bekerja di sektor industri atau bidang lain yang dianggap lebih menjanjikan dari sisi pendapatan dibandingkan pertanian.
“Yang menjadi pertanyaan sekarang, sektor mana yang dianggap paling menjanjikan dari sisi penghasilan. Kenapa pertanian saat ini semakin kurang diminati? Bukan berarti generasi muda meninggalkannya secara total, tetapi memang banyak yang tidak lagi ingin menggeluti sektor tersebut,” ujarnya.
Menurut Japar, fenomena urbanisasi turut menjadi salah satu penyebab berkurangnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian. Banyak anak-anak dari desa yang menempuh pendidikan di kota dan setelah lulus memilih menetap untuk bekerja di sektor nonpertanian.
“Petani identik dengan masyarakat desa. Ketika anak-anak muda dari desa berangkat kuliah atau sekolah ke kota, setelah selesai mereka cenderung tidak kembali ke kampung untuk bertani. Akhirnya muncul kesan bahwa sektor pertanian semakin ditinggalkan,” katanya.
Ia juga menyoroti perubahan fungsi lahan pertanian yang kini semakin banyak terjadi di berbagai daerah. Menurutnya, lahan pertanian produktif mulai beralih menjadi kawasan industri maupun pembangunan lainnya.
“Kalau kita lihat di Pulau Jawa misalnya, banyak lahan pertanian yang sekarang berubah fungsi. Di antara persawahan sudah berdiri pabrik-pabrik. Ini menunjukkan adanya perpindahan aktivitas ekonomi dari sektor pertanian ke sektor industri yang dianggap lebih menjanjikan,” jelasnya.
Japar mengingatkan bahwa jika kondisi tersebut terus berlangsung tanpa solusi yang tepat, Indonesia berpotensi menghadapi persoalan ketahanan pangan di masa mendatang.
“Kalau situasi seperti ini terus terjadi, jangan sampai Indonesia mengalami masalah pangan dan akhirnya terus bergantung pada impor. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Karena itu, ia mendukung berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan daya tarik sektor pertanian, termasuk mendorong keterlibatan para sarjana pertanian dalam pengembangan teknologi dan metode pertanian modern di daerah.
Menurutnya, inovasi menjadi kunci utama untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Salah satu contoh yang ia sampaikan adalah mempercepat masa tanam hingga panen melalui penggunaan bibit unggul, teknologi pertanian, maupun metode pemupukan yang lebih efektif.
“Kalau dulu panen membutuhkan waktu enam bulan, bagaimana caranya bisa menjadi tiga bulan. Itu bentuk inovasi. Dengan masa panen yang lebih cepat, tentu pendapatan petani juga bisa meningkat,” ujarnya.
Selain itu, Japar menilai konsep urban farming dapat menjadi solusi bagi daerah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. Ia bahkan mencontohkan sejumlah negara yang mampu memanfaatkan ruang terbatas untuk kegiatan pertanian.
“Di kota bisa menggunakan metode urban farming. Di Jepang bahkan ada yang memanfaatkan atap rumah untuk dijadikan area pertanian. Itu bentuk inovasi yang menunjukkan bahwa semua ruang bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam,” katanya.
Ia berharap masyarakat mampu melihat peluang di sektor pertanian dengan pendekatan yang lebih modern dan produktif. Menurutnya, baik di desa maupun di perkotaan, potensi pertanian tetap dapat dikembangkan selama ada kemauan untuk berinovasi dan memanfaatkan lahan yang tersedia secara maksimal.
“Jangan sampai ada lahan yang tidur. Kalau di desa, lahan yang ada harus dikembangkan. Kalau di perkotaan, bisa menggunakan urban farming.(f/adv)
![]()









