Balikpapan, Inikaltim.com – Anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Japar Sidik, menilai jaringan gas rumah tangga (jargas) berpotensi menjadi solusi energi jangka panjang bagi masyarakat. Namun, sebelum pemerintah menerapkan kebijakan terkait pengalihan atau penggunaan sumber energi baru, diperlukan sosialisasi yang menyeluruh serta kajian teknis yang matang agar masyarakat memahami manfaat dan risiko yang ada.
Hal tersebut disampaikan Japar Sidik saat diwawancarai di Kantor DPRD Balikpapan, Senin (8/6/2026). Menanggapi wacana pemanfaatan sumber energi alternatif selain LPG, Japar mengaku masih perlu mempelajari lebih lanjut bentuk dan karakteristik bahan yang akan digunakan.
“Kalau LNG atau LPG kan masyarakat sudah cukup familiar. LNG itu gas alam cair, begitu juga LPG yang bentuknya cair dalam tabung, tetapi saat digunakan keluar dalam bentuk gas. Kalau ada wacana pengalihan ke bahan lain, tentu kita harus tahu dulu barangnya seperti apa dan bagaimana penggunaannya,” ujarnya.
Menurut Japar, setiap perubahan kebijakan energi harus disertai edukasi kepada masyarakat. Ia menilai pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat terhadap energi baru tidak selalu berjalan mulus meskipun memiliki keunggulan dari sisi harga.
“Dulu waktu ada program bahan bakar gas untuk kendaraan, awal-awalnya ramai. Tetapi lama-kelamaan minat masyarakat berkurang. Padahal secara biaya lebih murah. Mungkin ada faktor keamanan, kenyamanan, atau kekhawatiran terhadap risiko kebocoran yang membuat masyarakat belum sepenuhnya tertarik,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa persoalan keamanan menjadi salah satu pertimbangan utama masyarakat dalam memilih sumber energi. Menurutnya, penggunaan gas memang memiliki risiko tersendiri apabila terjadi kebocoran.
“Kalau gas bocor tentu ada risiko yang harus diperhatikan. Masyarakat biasanya mempertimbangkan aspek keselamatan. Karena itu kalau ada kebijakan baru, sosialisasi mengenai keamanan dan cara penggunaannya harus benar-benar dilakukan,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Japar menilai jaringan gas rumah tangga atau jargas justru memiliki prospek yang cukup baik untuk dikembangkan sebagai solusi kebutuhan energi masyarakat. Selain dinilai lebih praktis, jargas juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap tabung LPG.
“Kalau bicara solusi jangka panjang, jargas bisa menjadi pilihan yang baik. Masyarakat tidak perlu lagi repot membeli tabung gas atau mengantre ketika terjadi kelangkaan LPG. Selama pasokan gas tersedia, kebutuhan rumah tangga bisa terpenuhi dengan lebih mudah,” ujarnya.
Ia menambahkan, sistem jargas juga memiliki tingkat keamanan yang relatif baik karena menggunakan instalasi permanen dengan tekanan yang lebih rendah dibandingkan tabung gas.
“Kalau jargas, instalasinya menggunakan pipa dan tekanan gasnya lebih rendah. Kalori bakarnya juga tidak terlalu besar sehingga relatif lebih aman. Api yang dihasilkan juga lebih kecil dan stabil dibandingkan sumber gas lainnya,” katanya.
Meski demikian, Japar menegaskan bahwa pengembangan jaringan gas bukan sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah daerah. Menurutnya, kebijakan dan program pemasangan jargas masih berada di bawah kewenangan pemerintah pusat melalui kementerian terkait.
“Pemerintah kota sifatnya mengusulkan kebutuhan masyarakat. Data warga yang membutuhkan jaringan gas disampaikan ke pemerintah pusat atau pihak yang berwenang. Yang menentukan kebijakan dan alokasi program tetap pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM, BPH Migas, maupun instansi terkait lainnya,” jelasnya.
Karena itu, ia berharap pemerintah daerah terus aktif menyampaikan kebutuhan masyarakat Balikpapan agar program jaringan gas dapat diperluas ke lebih banyak wilayah. Dengan dukungan pemerintah pusat dan ketersediaan pasokan energi yang memadai, jargas dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan pelayanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap LPG.
“Pemerintah kota tetap harus mengusulkan kebutuhan masyarakat. Semakin banyak data yang diajukan, semakin besar peluang wilayah tersebut mendapatkan program jargas dari pemerintah pusat,” pungkasnya.(f/adv)
![]()









