BALIKPAPAN – Kebiasaan membaca buku di kalangan anak-anak dinilai semakin menghadapi tantangan di tengah pesatnya perkembangan media sosial. Kehadiran berbagai platform digital, seperti TikTok dan media sosial lainnya, membuat anak-anak memiliki banyak pilihan hiburan dan sumber informasi yang dapat diakses dengan mudah melalui gawai.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Hj. Iim, Anggota DPRD Komisi IV Kota Balikpapan. Saat ditemui di Kantor DPRD Kota Balikpapan, Senin (7/9/2026), Hj. Iim mendorong para orang tua agar tetap mengenalkan dan membiasakan anak-anak membaca buku.
Menurut Hj. Iim, meskipun saat ini media sosial dapat menjadi salah satu sumber informasi, buku tetap memiliki peran penting dalam membantu anak mendapatkan pengetahuan dan referensi secara lebih utuh.
“Kalau saya tetap menganjurkan anak-anak itu baca, medianya tetap buku,” ujar Hj. Iim.
Ia menjelaskan, ketika anak-anak membutuhkan referensi untuk mempelajari suatu hal, buku dapat memberikan informasi yang lebih lengkap dibandingkan dengan konten singkat yang banyak ditemukan di media sosial.
Hj. Iim menilai informasi yang diperoleh melalui media sosial, termasuk TikTok, terkadang hanya disampaikan secara singkat dan sepotong-sepotong. Hal tersebut berbeda dengan buku yang umumnya menyajikan pembahasan secara lebih mendalam dan terstruktur.
“Kalau cari referensi, kalau di TikTok atau medsos itu biasanya sepotong-sepotong saja. Kalau misalnya buku, saya tetap mengajarkan buku,” katanya.
Menurutnya, kebiasaan membaca perlu ditanamkan sejak usia dini. Peran orang tua menjadi sangat penting dalam membangun ketertarikan anak terhadap buku. Orang tua tidak hanya dapat meminta anak membaca, tetapi juga memberikan contoh serta menyediakan buku yang sesuai dengan usia dan minat anak.
Hj. Iim juga memiliki cara sederhana untuk mendorong anak-anak agar semakin dekat dengan buku. Ia mengaku kerap menyarankan agar buku diberikan sebagai hadiah kepada anak-anak, terutama dalam momentum tertentu seperti ulang tahun maupun kegiatan atau event yang melibatkan anak muda.
“Kalau ada event atau apa, misalnya ngasih hadiah, coba diselipin buku. Kalau ulang tahun, suka ngasih buku,” tuturnya.
Ia juga mengajak para orang tua untuk menyisihkan sebagian penghasilan guna membeli buku bagi anak-anak mereka. Menurutnya, tidak menjadi persoalan apabila anak belum mampu membaca sendiri. Orang tua dapat membacakan buku tersebut kepada anak sebagai bagian dari kegiatan bersama di rumah.
“Kalau habis gajian, coba beli buku buat anaknya. Kalaupun dia nggak bisa baca, ya dibacain saja,” ucapnya.
Hj. Iim berharap kebiasaan membaca buku tidak semakin ditinggalkan akibat tingginya penggunaan media sosial. Menurutnya, perkembangan teknologi memang tidak dapat dihindari, tetapi anak-anak tetap perlu diarahkan agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan tidak sepenuhnya meninggalkan kebiasaan membaca.
Ia menilai buku dan media digital seharusnya dapat berjalan beriringan. Media sosial dapat digunakan untuk mendapatkan informasi awal, sedangkan buku dapat menjadi sumber referensi yang lebih mendalam untuk memahami suatu persoalan.
Karena itu, keterlibatan keluarga dan lingkungan sekitar sangat diperlukan untuk membangun kembali budaya membaca. Dengan kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini, anak-anak diharapkan memiliki wawasan lebih luas, kemampuan memahami informasi yang lebih baik, serta tidak mudah menerima informasi secara mentah dari media sosial.
Hj. Iim pun mengajak para orang tua di Balikpapan untuk mulai membiasakan anak-anak membaca buku dari lingkungan keluarga. Menurutnya, langkah sederhana seperti menyediakan buku di rumah dan meluangkan waktu untuk membacakan buku kepada anak dapat menjadi awal untuk menumbuhkan kembali minat baca generasi muda. (f/adv)
![]()









