BALIKPAPAN – Pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Balikpapan masih terlihat di tengah kondisi ekonomi yang dinilai sedang mengalami perlambatan. Salah satu fenomena yang mencolok adalah semakin banyaknya coffee shop dan tempat nongkrong yang bermunculan di berbagai kawasan.
Wakil Ketua DPRD Balikpapan Yono Suherman menilai pertumbuhan usaha tersebut dapat menjadi salah satu alternatif dalam menjaga perputaran ekonomi lokal. Bahkan, di tengah daya beli masyarakat yang cenderung ditahan, sejumlah coffee shop justru masih terlihat ramai dikunjungi konsumen.
Menurut Yono, fenomena tersebut dapat dilihat sebagai perubahan perilaku konsumen. Ketika masyarakat mulai menunda kegiatan yang membutuhkan pengeluaran besar, seperti liburan, membeli barang mewah, elektronik, kendaraan, maupun kebutuhan lainnya, sebagian pengeluaran kemudian dialihkan ke aktivitas yang dianggap lebih terjangkau.
Salah satunya adalah membeli kopi atau sekadar nongkrong di kafe.
“Yang lagi naik ini seperti penjualan parfum, coffee shop banyak juga di Balikpapan, bahkan ada tempat-tempat pedal baru, tempat-tempat olahraga. Itu seperti apa? Bisa mendorong ekonomi juga secara perlahan,” ujar Yono. Saat di temui di kantor DPRD Balikpapan, Rabu (9/9/2026)
Ia mengatakan, menjamurnya coffee shop dan berbagai usaha berbasis gaya hidup menunjukkan bahwa masyarakat tetap melakukan aktivitas konsumsi meskipun lebih selektif. Pengeluaran masyarakat tidak sepenuhnya berhenti, tetapi bergeser pada kebutuhan atau aktivitas yang dianggap masih dapat dijangkau.
Menurutnya, kondisi tersebut setidaknya memberikan peluang bagi pelaku UMKM untuk tetap menjalankan usahanya. Pertumbuhan usaha baru juga diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sehingga dapat membantu mengurangi angka pengangguran.
“Dengan adanya kafe, warung kopi banyak, itu berharap bahwa ekonomi kita ini tetap bisa bertahan minimal,” katanya.
Selain coffee shop, Yono menyebut munculnya tempat olahraga dan berbagai kegiatan atau event juga dapat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Perputaran uang dari kegiatan tersebut dinilai dapat membantu pelaku usaha dan pekerja yang menggantungkan pendapatan dari sektor jasa maupun UMKM.
Namun, Yono mengakui kemampuan masyarakat untuk membelanjakan uang tetap mengalami penyesuaian. Masyarakat kini cenderung lebih berhati-hati dan memprioritaskan kebutuhan pokok.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perekonomian Balikpapan. Sejumlah sektor dengan transaksi bernilai besar, seperti otomotif dan perumahan, turut menghadapi situasi ketika masyarakat memilih menunda pembelian.
Karena itu, pertumbuhan UMKM seperti coffee shop dan tempat olahraga diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjaga denyut ekonomi lokal. Meski skalanya tidak sebesar transaksi otomotif atau properti, aktivitas UMKM tetap memberikan dampak melalui penyerapan tenaga kerja, pembelian bahan baku, hingga transaksi harian masyarakat.
Yono berharap geliat UMKM tersebut dapat terus bertahan sembari kondisi ekonomi perlahan kembali membaik. (f/adv)
![]()









