Kutai Timur – Kutai Timur sedang berada di persimpangan sejarah. Di satu sisi, masa kejayaan tambang masih terasa. Di sisi lain, tanda-tanda perubahan sudah mengetuk. Anggota Komisi D DPRD Kutai Timur, Yulianus Palangiran, memilih untuk tidak menunggu lebih lama.
“Jangan kita terlalu terlena dan berharap dengan DBH,” tegasnya. Sebuah peringatan singkat namun tajam—bahwa ketergantungan pada Dana Bagi Hasil bisa menjadi jebakan nyaman yang melumpuhkan inisiatif daerah.
Yulianus mengajak semua pihak untuk mulai memetakan potensi yang selama ini belum digarap serius. Pelabuhan, bandara, hingga potensi perkebunan sawit, menurutnya, bukan sekadar aset mati. Jika diolah dengan cerdas, itu bisa menjadi mesin penggerak Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang selama ini belum optimal.
“Bandara dan pelabuhan itu punya kesempatan untuk mendapatkan kita PAD,” ujarnya, menyiratkan peluang yang menunggu untuk dibuka.
Tapi, seperti kisah klasik pembangunan daerah, tantangannya bukan hanya soal infrastruktur. Kutai Timur masih belum memiliki pabrik sawit sendiri. Sebuah ironi mengingat hamparan kebun sawit terbentang luas di tanahnya. “Kita terkenal Peduli Timur kaya karena perkebunan sawitnya,” katanya, namun kaya itu belum sepenuhnya kembali ke rakyat.
Di balik semua itu, Yulianus mengingatkan bahwa masa depan bukan hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi oleh semua pihak—termasuk masyarakat. Ia mengajak seluruh warga, pemangku kepentingan, hingga politisi lintas partai untuk bergandengan tangan dalam mengawal visi “Kutim Hebat”.
“Marilah kita dukung di dalam seluruh segi,” katanya.
Pesta demokrasi memang telah usai, tapi panggung pembangunan baru saja dimulai. Yulianus percaya, di era pascatambang, Kutai Timur harus mampu menulis babak baru: lebih mandiri, lebih kreatif, dan lebih bersatu.
“Besok lusa kalau program bupati terpilih berjalan, itu karena keterlibatan kita semua,” tutupnya.
Karena pada akhirnya, daerah yang tangguh bukan yang diberi banyak, tapi yang bisa mengolah apa yang dimiliki—dengan strategi, keberanian, dan kebersamaan. (SH)
![]()








